Hari Filateli
Kepada sesama filatelis di seluruh Indonesia, redaksi mengucapkan:

Kelompok Filateli
Oleh: Budi Rachmanto, Slawi, Jawa Tengah
Berbicara mengenai filateli, makin lama profesi (atau tepatnya: hobi) ini makin melebar. Filateli bukan saja hobi mengumpulkan prangko tapi makin luas. Meluasnya tidak hanya sekadar dari mengumpulkan prangko lalu meluas menjadi mengumpulkan benda-benda pos (kartupos, cappos, sampul peringatan, dan seterusnya) serta mengumpulkan benda-benda lain yang diperbolehkan (misalnya revenue stamps). Namun perluasan ini sudah mencakup “wilayah” yang terkait dengan prangko.
Prangko hanyalah sebuah produk dari suatu proses. Kalau kita hanya berfikir bahwa filateli hanya berkaitan dengan prangko saja, agaknya fikiran itu harus diubah. Kenyataannya, dalam berbagai pameran dan lomba filateli, sudah dimasukkan juga barang-barang yang menjadi cikal-bakal munculnya prangko, mulai dari rancangan sampai kepada art-proof, sebelum akhirnya dijadikan master untuk mencetak prangko (dan benda filateli lainnya).
Oleh karena itulah, menurut saya, filateli menjadi semakin luas. Saya sempat berfikir kalau filateli dapat kita golong-golongkan menjadi empat kelompok, yaitu filateli hulu, filateli murni, filateli hilir, dan filateli penunjang.
Kartupos yang Mulai Langka
Oleh: Agus Wahyudi, Palembang
Saya pernah (dan masih) tertarik untuk mendapatkan hadiah undian dengan mudah, cukup dengan format ketik HP (spasi) A/B/C kirim ke 9999. Sungguh gampang kan? Biasanya biaya per SMS-nya berbeda, bukan tariff normal, mereka menyebut tariff premium Rp 2.000,- (belum termasuk Ppn). Sudah tidak terhitung berapa kali mengirimnya, dan saya yakin jawabannya benar, karena selain pertanyaannya mudah juga tinggal pilih jawaban namun sampai saat ini belum pernah dapat hadiah yang ditawarkan. Sepertinya undian model begini bukan sekedar arisan, tapi memang kategori gambling. Penyelenggara bagaikan sang Bandar yang main dengan teori probabilitas.
Menarik lho, dengan modal sekitar Rp 2.500,- berkempatan dapat hadiah yang tersedia untuk 2 pemenang @ Rp 500.000,- setiap malam, tepatnya tengah malam. Kalaulah setiap malam terdapat minimal 500 SMS jawaban masuk, maka hitungannya sudah bisa dianggap impas. Dapat Rp 1.000.000,- diberikan lagi sebagai hadiah Rp 1.000.000,-. Sedangkan biaya operasional dianggarkan tersendiri yang kelak/diharapkan akan dapat ditutupi dari penghasilan selirih kelebihan jumlah SMS yang masuk. Nggak tahu apakah saat ini masih ada, sebab jarang tidur larut lagi sih.
Bekal ke Pameran
Kiriman: Agus Wahyudi, Palembang
Bakal banyak yang diinginkan dengan berkunjung ke suatu Pameran? Maka, perlu daftar panjang yang mesti dibuat setidaknya untuk panduan selama berada di suatu lokasi pameran. Hal tersebut diperlukan agar target yang bakal kita harapkan dapat tercapai. Kalau tidak bakal menyesal deh atau setidaknya bakal menghabiskan waktu dan rentetan yang mengikutinya.
Misalkan mesti over stay untuk memuaskan seluruh keinginan kita, tentu bakal ada biaya makan minum plus penginapan kalau kita bukan berasal dari kota tersebut.
Bayangkan bila sebuah pameran filateli yang memajang koleksi sebanyak 1.000 frame (Indonesia ‘96 sebanyak 1.297 frame). Kalau 1 frame berisi 16 kertas pamer dibutuhkan waktu untuk mencermati (tentunya dengan menikmati) masing-masing lembar 2 menit. Hitung-hitung sekitar 2.000 menit dibagi 60 menit didapat 33 jam lebih, lebih dari sehari semalam, kalau nggak tidur.
Prangko Cetak Sendiri
Prangko semakin luas saja pengertiannya. Kalau dulu prangko adalah selembar kertas mungil, bergambar cantik, kini Anda harus segera mengubah pemahaman Anda itu.
Prangko kertas dinilai orang tidak praktis, karena untuk membelinya, harus ke kantor pos (atau alternatifnya), lalu dilekatkan ke amplop atau kartupos, lalu diposkan. Anda harus pergi dari rumah ke kantor pos, belum lagi harus jam kerja (mending juga sih beberapa kantor pos sekarang buka di hari libur) dan menghabiskan bahan bakar kendaraan Anda.
Untuk mengatasi hal ini, dinas pos Amerika dan Inggris telah menawarkan suatu solusi baru, yaitu prangko yang bisa dicetak sendiri oleh pembelinya! Kita lihat dulu yang versi Amerika. Kita tinggal “beli software”-nya di kantor pos seharga USD $15.99 (seharga kira-kira 20 prangko pengiriman lokal). Setelah diinstal di komputer Anda, Anda bisa memakai program ini untuk mencetak prangko, lalu menempelnya ke amplop Anda (bisa juga sih Anda cetak di amplop langsung). Komputer Anda harus terhubung ke Internet, agar tersambung langsung ke sistem kantor pos. Oh ya, Anda juga akan mendapat timbangan surat gratis, untuk menimbang surat yang akan Anda kirim dan menginput bobot amplop ke program, sehingga akan dihitung tarif yang benar. Saldo Anda berkurang sesuai dengan jumlah prangko yang Anda cetak.
Setelah itu, Anda tinggal memasukkannya ke bis surat terdekat dan surat akan terkirim. Bila saldo Anda habis, maka Anda harus mengisinya kembali, sudah barang tentu bisa melalui kartu kredit, cek, atau setoran ke kantor pos.


Kalau versi Dinas Pos Inggris sedikit berbeda, karena kita harus membeli softwarenya seharga GBP 49,99 lalu per bulan Anda harus berlangganan sebesar GBP15. Bedanya memang ada biaya tahunan untuk sistem Inggris.
Banyak keuntungan dari sistem pos pribadi ini, yaitu: kita tidak perlu ke kantor pos, bisa mengubah atau membuat tambahan disain di prangko, bisa memberi gambar tambahan (misalnya: logo perusahaan, kata “rahasia”, “barang cetakan”, dsb), dan tidak perlu membayar berlebih (misalnya harus membayar $1.75 tidak harus membeli dua prangko @ $1 jadi $2).
Nah, prangko konvensional mendapat saingan berat lagi
Gita Noviandi
Kita punya tamu, yaitu Bapak Gita Noviandi. Untuk membaca “sepak terjang” beliau di bidang filateli, silakan klik saja halaman Sosok. Selain itu, beliau juga punya ajakan buat kita semua yang “mengaku” sebagai filatelis, untuk menjadi “beberapa orang” sekaligus. Berikut ini tips yang disampaikan beliau.
Mari mulai sekarang kita menjadi seorang kolektor, seorang organisator, seorang exhibitor, dan seorang investor.
Sebagai seorang kolektor, kita hanya murni mengumpulkan benda filateli, sehingga kalau kita hitung 99% nilai hobi dan 1% nilai investasinya, jangan dulu berharap mendapatkan nilai lebih dari benda yang kita kumpulkan. Biasanya pada sisi ini, kita hanya mencari nilai kesenangan atau kepuasan saja!
Sebagai seorang organisator, sambil mengumpulkan benda filateli yang kita senangi, mari tambah ilmu melalui organisasi filateli, sehingga kita tahu cara mengoleksi prangko yang baik dan benar, mencari literatur filateli yang mendukung hobi kita sehingga koleksi kita dapat diarahkan untuk dipamerkan atau dipertandingkan, baik tingkat nasional maupun internasional.
Setelah itu, barulah kita bisa menjadi seorang exhibitor, yaitu orang yang memiliki koleksi sesuai dengan aturan kelas filateli yang diakui oleh FIP/FIAP, sehingga kita bisa melihat kemampuan kita bertanding di tingkat internasional.
Terakhir, jadilah seorang investor. Bagian ini, ada orang yang senang atau berbakat, ada juga yang tidak, dikembalikan kepada masing-masing orangnya. Saya melihat karakter ini justru akan timbul dengan sendirinya setelah jam terbang kita cukup tinggi. Saya juga bisa sampai ke bagian ini kurang lebih setelah 10 tahun lamanya berkecimpung di dunia filateli. Selain sabar, juga memang dibutuhkan keberanian untuk melangkah dan tidak malu bergaul dan bertanya kepada teman-teman lain yang sudah lebih tahu dan lebih berpengalaman.
Nah, Anda berani menerima ajakan Pak Gita?
Koleksi Mahal
Salah satu kunci memenangkan lomba filateli adalah adanya “barang langka” di dalam koleksi Anda. Barang langka ini bisa berupa barang yang memang sangat mahal harganya, atau memang barang yang tidak mudah dijumpai di bursa atau pasar koleksi. Untuk barang yang tidak mudah dijumpai di pasar misalnya adalah ada surat (misalnya SHP atau sampul peringatan yang dibubuhi tandatangan asli mantan Presiden, atau surat dari Direktur Penjara Alcatraz ke nama dan alamat Anda, atau surat dari Vatikan, atau surat sejenis lah). Surat ini sebenarnya tidak begitu mahal membuatnya, karena Anda tinggal mengirim surat ke mereka, lalu tunggu balasannya. Atau pas ada kesempatan bagus, Anda bertemu dengan tokoh, minta tanda tangan beliau di salah satu benda koleksi Anda (biasanya sampul/amplop atau kartupos).

Bila Anda ingin memiliki benda-benda koleksi yang mahal, sudah barang tentu Anda harus siapkan uangnya. Tetapi, mahal itu berapa sih? Oke, salah satu contohnya adalah, kunjungi saja salah satu situs yang menawarkan “barang-barang langka”, yaitu pada link di bawah artikel ini. Di situs ini tersedia berbagai benda koleksi, mulai dari prangko kuno, amplop dari jaman susah (misalnya dari Perang Dunia I dan II, termasuk dari dalam penjara).
Berapa harganya? Ada beberapa benda koleksi (sekitar sepuluh amplop) yang ingin saya masukkan ke dalam koleksi saya, karena temanya sesuai. Namun setelah saya lihat harga penawarannya, yaitu AUS $10.000, atau sekitar Rp85.000.000 (dengan kurs Rp8.500), saya jadi berfikir ulang. Ada yang mencoba menawar AUS $7.500, belum dikasihkan juga.
Oh, jadi ternyata, di sinilah rahasianya bahwa hobi filateli bisa mendatangkan uang, yaitu kalau kita bisa menjual mahal sebagian benda koleksi kita. Namun kalau kita sebagai pembeli ya… habis lah uang kita.
Nah, kalau Anda memang masih berniat untuk memenangkan lomba filateli, carilah barang-barang langka seperti ini. Namun, tetap saja belum tentu menang, karena koleksi pesaing Anda …mungkin jauh lebih mahal dibanding koleksi Anda!
Koleksi
Redaksi berhasil menghubungi (dan menemui) rekan Tono Dwi Putranto, yang sedang berkunjung ke Yogyakarta. Kesempatan baik ini kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mencari tahu bagaimana Tono mengumpulkan benda filatelinya sedikit demi sedikit (ada juga yang langsung banyak sih). Perjuangannya memang tidak gampang (jadi, Anda yang suka mengeluh, kayaknya tidak bakal kerasan deh bermain di bidang filateli).
Selain itu redaksi juga minta ijin untuk menampilkan koleksi-koleksi beliau yang sudah dipamerkan di berbagai lomba dan pameran. Akhirnya, koleksi dia terbaru, yaitu yang baru saja mendapat berbagai medali di International Stamp Exhibition Taipei 2008 (bulan Maret), ditampilkan di halaman Koleksi. Silakan dilihat-lihat, dipelajari. Anda boleh saja mengunduh gambar atau filenya, tetapi gunakan untuk tujuan baik ya? Benar lho, jangan untuk yang merugikan orang lain.
Lalu kami sempat mengobrol bagaimana perkembangan filateli di Indonesia selama ini dan bagaimana cara kita ikut memajukannya. Kita bersepakat untuk memperluas jaringan dengan mengajak semua teman2 kita untuk bersama-sama memajukan filateli. Kalau Anda belum sempat kami kontak, silakan mendului kontak kami melalui blog ini, dengan memberi saran dan komentar, atau ajakan. Bener lho, supaya bisa maju, kita tidak bisa melakukannya sendirian.
Dokumen Filateli
Bila Anda memerlukan berbagai dokumen filateli (misalnya saja mengenai Penny Black atau metode pencetakan prangko), silakan lihat linknya di halaman Dokumen ya. Sedang untuk buku-buku mengenai filateli, disediakan di halaman Pustaka.
Berbagai file yang linknya ada di halaman Dokumen, ukurannya besar-besar, karena banyak gambarnya, dan beberapa di antaranya banyak halamannya. Bagi Anda yang punya koneksi Internet dengan jalur cepat, silakan mendownload sebanyak-banyaknya, lalu nanti dibagi untuk teman-teman yang “kurang beruntung” tidak punya koneksi cepat ke Internet ya. Dokumen ini memang terbuka untuk publik kok, sehingga tidak ada pelanggaran hak cipta untuk menyalinnya. Namun, bila dikutip untuk tulisan Anda, tetap harus disebut sumbernya lho.
Bila Anda menemukan situs lain yang juga bermanfaat untuk kita semua, silakan dishare kemari ya. Terima kasih sebelumnya. Kalau Anda mempunyai kliping artikel di surat kabar atau majalah, boleh juga diemail atau diposting ke redaksi, untuk ditampilkan di sini.
Pengurus PFI
Daftar Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia sudah dipindahkan ke halaman PFI. Silakan klik halaman PFI. Komentar atau pertanyaan, dapat disampaikan melalui komentar di bawah ini. Maaf dan terima kasih.



