Media Filatelis

Berbincang tentang filateli

Pada Sebuah Pameran

Kiriman: Agus Wahyudi, Palembang

Ada satu kesenangan saya yang kadang sulit terpenuhi, hadir pada suatu pameran, entah apapun namanya, temanya dan penyelenggaranya.
 
Pernah suatu kali dalam rintik gerimis sore hari saya nekad melangkahkan kaki ke suatu lapangan dan mencoba melongok dari satu stand ke stand pameran. Meski tidak menarik, halaman sedikit becek, tapi rasanya saya puas bisa hadir di tengah-tengah mereka. Tujuan saya adalah juga ingin memuaskan peserta pameran, bahwa ada lho pengunjung pameran. Walaupun saya tidak belanja, walau saya hanya melihat-lihat, bahkan terkadang sekedar bertanya-tanya untuk memenuhi keingintahuan saja. Misalkan ingin tahu aneka khasiat ekstrak buah mengkudu yang pohonnya banyak tumbuh di belakang rumah di stand penjual kapsul kesehatan.
 
Misalkan pada suatu pameran pembangunan saya tertarik stand kantor karantina, ternyata yang melayani saya adalah seorang pegawai dari instansi dimaksud, tetapi dalam pameran tersebut bukan PENJAGA yang dimaksud dalam suatu pameran yang mesti menjawab kalau ada pertanyaan atau menjelaskan hal-hal yang menjadi perhatian pengunjung. Saya mencoba menebak tepatnya merangkai jawaban yang diberikan atas pertanyaan saya, sambil memastikan informasi tersebut. Syukurlah Penjaga Stand yang sebenarnya segera hadir melengkapi informasi yang saya butuhkan, dan memang petugas yang hadir belakangan adalah stand guide yang on duty, meskipun untuk beberapa saat tidak di tempat sehingga saya dilayani oleh selain petugas yang berwenang.
Nah dari penggalan pengalaman ini, jangan sekali-kali image instansi dalam sebuah pameran dipertaruhkan. Hendaknya tidak terlalu sembrono menugaskan personal yang tidak kompeten apalagi bukan semestinya memberikan informasi, ingat Penjaga Stand, bukanlah SATPAM. Seharusnya Penjaga Stand adalah wakil perusahaan yang pantas berhadapan dengan publiknya, bisa jadi pelanggannya atau calon pelanggan.
 
Mahal dong bayarannya, tentu, jangan sampai lebih murah daripada sales girl yang selain dibayar mahal karena berat tugasnya, kalaulah menarik untuk dilihat oleh mata kita (cantik, lincah dan cekatan) itu kategori bonus, kata EO pengerahnya.
 
Terkait dengan Indonesia 2008, jadi teringat dengan Indonesia 1996, juga Jakarta 1995 yang cukup banyak menyerap tenaga kerja paruh waktu/insidentil, dengan menyediakan penjaga stand yang kabarnya lumayan mahal dibayar, sekitar US$ 10 perjam kerja atau US$ 50 perhari. Umumnya yang butuh bantuan adalah pemilik stand dari Negara-negara di luar Asia, pokoknya yang bukan berbahasa Indonesia/Melayu sehingga perlu interpreter untuk menjelaskan produk filateli, bukan sekedar tawar-menawar harga barang. Kalau ini berkomunikasi dengan sebatang kalkulator sudah bisa terjadi transaksi.
 
Pameran Dunia yang dihadiri oleh peserta penyewa stand dari manca Negara adalah lowongan bagi yang punya kemampuan berbahasa asing. Jadi, kalau di antara para filatelis punya kompetensi berbahasa asing, Asia atau Eropah kayaknya panitia/OC (Organizing Committee) juga bisa mengakomodasi kebutuhan para peserta penyewa stand (stamp dealer) dari manca Negara.
 
Ayo Sukseskan dan Kunjungi Jakarta 2008.
 
Viva Filateli Indonesia
 
Salam,
Agus Wahyudi,
Palembang, 13 Maret 2008

16/03/2008 - Posted by | Pameran | , ,

3 Komentar »

  1. Waduh… langsung saya infokan ke penerbit Pak Agus. Terima kasih atas infonya. Iya nih Pak Agus, gimana ya Jakarta 2008, kok belum ada grengsengnya… atau saya yang ketinggalan ya?

    Komentar oleh Wing | 30/04/2008 | Balas

  2. Mas WWW, betul tuh, kelupaan untuk mensyaratkan pengetahuan filateli kepada para pramuniaga, karena “terminologi filateli” pasti berbeda dengan apa yang ditulis di kamus. Saya ingat pak Suryono yang ingin menambahkan lagi selain istilah “used”, dan “CTO” untuk prangko bercaptanggal (bukan sekedar bekas prangko).

    Info saja, hingga akhir April 2008 buku filateli dimaksud belum tersedia di Gramedia Palembang. Kabarnya di Toga Bandung sudah siap jual dengan diskon 20%.

    Semoga selalu sukses.

    Salam dari tepi Musi,
    Agus Wahyudi

    Komentar oleh Agus Wahyudi | 30/04/2008 | Balas

  3. Pak Agus, saya setuju penjaga stand nanti bisa berbahasa Inggris lah minimal. Tetapi selain itu, saya juga menyarankan agar mereka tahu filateli, karena kalau hanya berparas cantik dan pinter bahasa Inggris, lalu pengunjung ada yang tanya: Is this CTO, or missed-print? Lalu mau jawab apa dia? Oh, this is a messy stamp, I guess…

    Nah, saya kira sejak sekarang mestinya panitia sudah mulai mencari dara2 cantik itu (ya pasti lah sama satria2 yang ganteng2), lalu mereka harus kita kursus tentang filateli paling gak seminggu, boleh di Yogya, boleh di Jakarta, boleh di Palembang (kalau di Malang boleh gak Pak Agus enaknya? hehehe marah tuh Mbak Yesy sama Mbak Vita).

    Lalu, yang ngasih kursus dara2 cantik saya, yang satria2 ganteng Pak Agus. Gimana Pak, setuju kan? Hahahaha

    Komentar oleh Wing Wahyu Winarno | 16/03/2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s