Media Filatelis

Berbincang tentang filateli

Bekal ke Pameran

Kiriman: Agus Wahyudi, Palembang 

Bakal banyak yang diinginkan dengan berkunjung ke suatu Pameran? Maka, perlu daftar panjang yang mesti dibuat setidaknya untuk panduan selama berada di suatu lokasi pameran. Hal tersebut diperlukan agar target yang bakal kita harapkan dapat tercapai. Kalau tidak bakal menyesal deh atau setidaknya bakal menghabiskan waktu dan rentetan yang mengikutinya.

Misalkan mesti over stay untuk memuaskan seluruh keinginan kita, tentu bakal ada biaya makan minum plus penginapan kalau kita bukan berasal dari kota tersebut.

Bayangkan bila sebuah pameran filateli yang memajang koleksi sebanyak 1.000 frame (Indonesia ’96 sebanyak 1.297 frame). Kalau 1 frame berisi 16 kertas pamer dibutuhkan waktu untuk mencermati (tentunya dengan menikmati) masing-masing lembar 2 menit. Hitung-hitung sekitar 2.000 menit dibagi 60 menit didapat 33 jam lebih, lebih dari sehari semalam, kalau nggak tidur.

Betapa panjang/lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menikmati semua yang disajikan/dipamerkan. Itu pengorbanan yang mesti dibayar untuk bisa menikmati seluruh jerih payah peseta pameran yang saat menyiapkannya juga kadang menghabiskan berbagai waktu istimewanya. Misalkan waktu nonton film di bioskop bersama si-dia, atau waktu bersama dengan buah hati. Konsentrasi untuk menata koleksi yang bakal dipamerkan. Biasanya sih dimaklumkan.

Lalu, siasat apa yang perlu diterapkan? Semoga saja panitia mencetak cukup banyak, sebanyak target pengunjung pameran, buku pameran atau katalog pameran. Yang memuat denah lokasi, kelompok koleksi, nama koleksi, asal negara peserta. Informasi ini sangat diperlukan agar waktu yang tersedia bisa efektif sekaligus efisien. Kalaulah terpaksa karena perhitungan waktu jangan segan-segan untuk zig-zag, dari yang mesti dilihat sampai panel yang bisa ditinggalkan, karena nggak ada waktu. Jangan sampai menyesal belum melihat koleksi unggulan sementara koleksi yang biasa saja malah menyita waktu banyak.

Di sela waktu kunjungan ke pameran tersebut, saat istirahat (umumnya adalah istirahat untuk makan), kiranya juga dimanfaatkan dengan berkunjung ke kantin atau cafe yang disediakan. Lokasinya juga mesti sudah diketahui agar tidak tersesat saat mencari-cari. Juga menu yang tersedia mesti diantisipasi kalau-kalau tidak diminati. Lebih baik sih bekal sendiri, tapi ingat di lokasi pameran tidak diperkenankan makan minum. Maka biasanya juga disediakan sejenis rest room untuk keperluan ini, meski bagi penyewa bakal senang kalau gratis. Ini kalau penyelenggara baik hati alias penderma, biasanya sih sewanya lumayan mahal sehingga untuk menutup biaya maka harga menu dinaikkan, menjadi beban pembeli.

Selain bekal uang cukup, untuk makan minum, untuk kelancaran kunjungan agar membawa tas gantung atau pinggang sehingga saat mengamati panel tangan kita bebas, asal isinya tidak berat dan bakal menggangu konsentrasi. Kalau tidak dinyatakan dilarang biasanya kita boleh memfoto panel-panel berisi koleksi tersebut, dengan catatan tidak menggunakan flash. Seperti umumnya ketentuan di dalam museum yang melarang penggunaan flash kamera foto. Maka patuhi peraturan penyelenggara, agar sekuriti tidak memaksa Anda untuk meninggalkan pameran dan menggiring ke yang berwajib karena berlaku kriminal. Untuk itu set kamera ke modus museum atau flash non aktif, sehingga saat ‘klik’ tidak disertai kilatan cahaya yang bakal mempengaruhi warna koleksi. Bukankah daya tarik prangko di antaranya karena corak warna desain yang beraneka sehingga percetakan berlomba untuk menghasilkan prangko dengan multi color.

Meski agak sedikit repot jangan lupa membawa notes kecil untuk sekedar catatan bila dijumpai hal-hal yang menarik atau hal yang perlu penjelasan.

Untuk selanjutnya ditanyakan ke pihak yang lebih paham atau sekedar catatan yang berarti bagi yang menulisnya. Umumnya juga di lokasi pameran tidak disediakan tempat duduk untuk sekedar istirahat saat lelah berdiri dan berjalan dari satu panel ke panel berikut.

Maka siapkan alas kaki yang nyaman.

Kadang larangan di tempat pameran dinyatakan, rambu-rambu dipasang, biasanya sih tidak banyak, selain tidak boleh merokok, makan minum, (meskipun hanya sepotong ice cream Walls, sepotong coklat atau seteguk minuman air putih dalam botol). Beda di toserba, kita tidak dilarang memakai jaket asalkan di baliknya bukan berisi roti berikut potongan keju seperti yang ditampilkan Mr Bean yang kocak itu). Lagi pula biasanya di arena pameran tidak disediakan loket penitipan sih. Padahal kalau mau sih ini juga bisa jadi bisnis tersendiri. Pengalaman saat ke pameran dan bursa buku, sengsara, buku yang dibeli mesti ditenteng sambil memilih buku yang bakal dibeli di stand berikutnya. Capek, kalau ada penitipan pasti deh diminati.

Satu hal sebagai pesan terakhir sebelum bertandang ke pameran, jaga keamanan barang bawaan anda, ingat yang disiapkan tadi, kamera, alat tulis (buku dan pena), bekal makan minum yang disimpan dalam tas. Bisa jadi di lokasi seperti ini masih dijumpai orang jahil kalau kita lengah, meskipun sekuriti sudah siap di segala sudut. Ditambah CCTV yang membantu petugas dan panitia untuk memantau seluruh kegiatan di lokasi pameran.

Ayo Sukseskan dan Kunjungi Jakarta 2008.

Viva Filateli Indonesia

Salam,

Palembang, 23 Maret 2008

Agus Wahyudi

25/03/2008 - Posted by | Pameran

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s